Jingle Radio Kayu Manis - RKM

8/11/2021 09:05:00 AM Saelz 0 Comments

 Jingle Radio Kayu Manis - Lembut Suaranya, Manis Bisikannya (sekarang jadi Smooth 99.5 FM)



 Jingle Radio Kayu Manis - Lembut Suaranya, Manis Bisikannya (sekarang jadi Smooth 99.5 FM)

0 comments:

Membayangkan Hard Rock FM tanpa Gofar

5/01/2021 10:49:00 AM Saelz 0 Comments

 

Ini keinginan pribadi Gofar dan Surya. Setidaknya menurut fans Gofar, pernah terujar oleh bapak-bapak sekut itu di youtube Kemal Palevi dan Dustin Tiffani. Dan mereka resign. Bukan dipecat HRFM.

Seandainya Hard Rock yang melepas Gofar dan Surya, ini akan terjadi pada Desember. Sudah kultur kontraknya MRA dari dulu, misal Dylla Agnesia dipindah ke siang karena pernah saya dengar sendiri pernah blunder mengiyakan fashion show MRT saat acara ini sudah dihujat orang.

Pada awal Maret lalu Hardrock malah seperti merayu duo gila agar tidak keluar dari sana. Seperti mengupload rekaman siaran, hal yang jarang dilakukan radio manapun kecuali station ID. Ini official Hard Rock lho. Namun rasanya tidak mungkin mencegah mereka resign, terlebih Gofar sekarang fokus solo karir sebagai interviewer di medianya sendiri.

Sudah pasti Hard Rock kehilangan Gofar, senior di radio itu sudah 9 tahun, dan Surya. HRFM seperti kehilangan arah, mereka merekrut Ardhito yang anak bawang di Hard Rock (baru masuk awal 2021). 

Parahnya pasangan Ardhito seperti cocok cocokan, dan dianggap bikin ngantuk pendengar di pagi hari karena tidak biasa siaran. Sejumlah pendengar sempat merasakan kecocokan ketika Sheryl Sheinafia siaran (apalagi Sheryl memang terkenal dari penyiar Breakout Net). Bahkan ada yang minta Gofar dipadankan dengan Sheryl (agak mirip Gofar - Ary Kirana). Sayang dicabut lagi.

Lebih parahnya lagi, fans Gofar tidak suka Ardhito dari awal karena dianggap perwakilan anak-anak alay, dan merusak generasi 90an. Ditambah pemberitaan miring dari media oposisi pemerintah terkait kasus Omnibus Law (sebenarnya Gofar juga kena tapi tidak separah Ardhito).

UU Ketenagakerjaan Kendala Hard Rock 

Bagaimanapun, radio adalah badan usaha PT, kalau zaman dulu Rasitania/Rasisonia. Tidak boleh main-main dalam rekrut orang. Ada koridor hukumnya. Ada perjanjian hitam di atas putih, dan umumnya di kantor-kantor non radio ada jeda 1-3 bulan dari resign nya si A digantikan si B.

Semua ini diatur UU Ketenagakerjaan. Namun ini memang rahasia MRA terkait peraturan internal radio-radionya. Yang jelas peraturan ini harus disahkan Disnaker DKI. Main-main dalam rekrutmen magang bahkan sekedar penyiar tamu, masalahnya dengan hukum. Apalagi siaran pagi Hard Rock dan radio Jakarta umumnya diisi penyiar bintang. Inilah alasan penyiar umumnya diganti pada Januari tahun berjalan.

Bahkan memindahkan penyiar segrup tidak semudah itu, misal memindahkan permanen Surya dari Trax ke Hard Rock berarti pindah badan usaha penyiaran walaupun segrup.

Apalagi kabarnya resign ini mendadak, mungkin baru 30 hari dari siaran terakhir Gofar Surya sampai ke manajemen Hard Rock. Mereka dikejar-kejar pendengar yang kecewa, listenership turun, bahkan banyak beredar komentar negatif setiap siaran Ardhito mengcover lagu. (Dari awal generasi Ardhito sudah tidak disukai oleh pendengar HRFM)

Melihat dari waktu siaran yang diisi Ardhito sekitar 1,5 bulan, sepertinya penyiar permanen akan muncul setelah uji coba cocok cocokan penyiar. Atau sekitar 2 Juni nanti. Normal memang untuk mencari pengganti orang yang resign. Mengapa penyiar tamu seperti Sheryl tidak bisa permanen? Ini tentu faktor UU Ketenagakerjaan dan deal yang dilakukan dadakan oleh Hard Rock.

Siaran Pagi Tak Boleh Sendiri?

Entah faktor Ardhito tidak biasa siaran sendiri (di Trax FM hanya bertahan sebentar menggantikan Randhika - Gita Bhebhita) atau hukum siaran pagi Hard Rock tidak boleh sendiri.

Sejak zaman Tika Panggabean (Tika Udjo?, 1997-2005?), Panji - Steny (2005-2010), Melaney Ricardo (2010-12 dan beliau keluar dari dunia radio ke hukum), Gofar (2012-2021) siaran Hard Rock jarang sekali sendirian. Jarang sekali "krik" seperti saat masuknya Ardhito di siaran pagi. Resign nya Gofar membuat Hard Rock benar-benar berubah dalam bisnis siaran pagi.

Apalagi Hard Rock adalah salah satu radio Jakarta minim perubahan dalam 25 tahun. Jadi digantinya Gofar dengan sosok yang dianggap garing dan tidak lucu merusak brand siaran pagi Hard Rock FM.

Kita lihat bulan Juni, apakah siaran pagi kembali diisi sosok yang mirip-mirip Gofar dan Ardhito kembali ke kontraknya di malam akustikan, atau malah radionya yang... Sulit aku bayangkan.

https://hardrockfm.com/nih-yang-kangen-duet-pandji-pragiwaksono-dan-steny-agustaf-ketika-nemenin-gofar-hilman/





  Ini keinginan pribadi Gofar dan Surya. Setidaknya menurut fans Gofar, pernah terujar oleh bapak-bapak sekut itu di youtube Kemal Palevi da...

0 comments:

Radio Sael kembali ke domain blog?

5/01/2021 09:48:00 AM Saelz 0 Comments

Dulu sekali, blog khusus radio ini pernah menempati tempat di https://misael.id/ . Namun karena pada 2019 keuangan saya mengalami krisis parah selepas nggak kuliah lagi, blog itu dilepas.

Pada saat itu tiba-tiba Jalur5 Community yang dipegang bersama dengan teman-teman menjadi besar. Saking besarnya menjadi tak terkendali bahkan saat ini followers di Instagram sudah melewati banyak radio lokal tanpa beli sama sekali (20.174)

Sejak adanya covid 19, terjadi banyak perubahan di radio-radio Jakarta, sehingga ada yang tutup. Ada yang baru, ada yang ganti pemilik. Raksasa radio MRA tidak siaran 24 jam lagi, mereka off air dari 01.00 dan aktif sekitar jam adzan subuh. Setelah 25 tahun terjadi perubahan jam siar Drive and Jive Hard Rock FM, dipotong hanya sampai 20.00.

Yang jelas, listenership radio sempat benar-benar anjlok setelah pandemi, dan kembali bangkit sejak New Normal.

Sepertinya saya perlu menulis lagi soal radio, walau nggak sesering dulu. Kemungkinan akan menjadi radiosael.org atau pakai domain id, tapi lihat nanti saja...



Dulu sekali, blog khusus radio ini pernah menempati tempat di https://misael.id/ . Namun karena pada 2019 keuangan saya mengalami krisis par...

0 comments:

Selamat Jalan 94.7/104.3 UFM

5/01/2021 09:04:00 AM Saelz 0 Comments

Dulu pernah sekali melihat iklan UFM yang memiliki dua frekuensi, entah di mana, yang jelas di sekolah sekitar 2011. Dulu masa jayanya Femina, mereka juga cukup berhasil dalam mengembangkan UFM di dua kota, Jakarta dan Bandung.

Namun kejayaan ini tidak berlangsung lama. 104.3 UFM Bandung mengakhiri siaran secara resmi sekitar 2013, kalau mengacu pada twitter resmi mereka. Mereka tidak sempat melewati era Instagram, karena pada saat era Instagram UFM hanya punya unit di Jakarta.

(sumber foto http://radiobrandingmaterials.blogspot.com/2013/10/studio-office-interior-947-ufm-jakarta.html )

Tidak lama, radio yang di Jakarta megap-megap, pernah berhenti siaran sangat lama sekitar awal 2019 (sekitar 3 bulan) karena pindah kantor dari Menara Imperium ke gedung Femina. Nah, siaran yang di gedung Femina juga hanya berlangsung sebentar hingga awal pandemi Covid-19. Jadi ada kemungkinan radio ini tutup karena pandemi.

Terlebih sejak 2018 sudah terdengar isu tidak enak terkait grup media Femina, sehingga sepertinya saat ini mereka hanya mau fokus di majalah. UFM Jakarta sudah tidak ada kabar di gelombang FM maupun media sosial. Post terakhir ada di awal Januari 2021, namun pantauan saya radio ini masih beroperasi sampai awal Maret 2020, ketika sudah ada pandemi. post terakhir UFM Jakarta

UFM Bandung 104.3 menjadi Rodja

Femina sudah resmi menjual kepemilikan radionya di Bandung. Kemungkinan bukan hanya dijual karena radionya sudah melewati batas dead-air dari Kemenkominfo yaitu 3 bulan. Kalau mengacu pada situs Rodja, sepertinya izin baru, tapi kita lihat saja dari nama PT radionya nanti. https://rodja.info/progres-donasi-pendirian-radio-rodja-fm-bandung-dan-majalengka-5/

Sebagai informasi, Femina masih memiliki radio UFM selama sekitar 6-7 tahun, bahkan menjalankan dengan automated music, memutarkan lagu-lagu slow hits seperti format UFM awal-awal. Namun biasanya hanya bertahan sebentar, habis itu dead air lagi. Siaran UFM juga low power dan hanya bisa didengar dari kawasan Pasteur.

Dengan dibelinya radio ini oleh Rodja yang lebih memiliki kekuatan ekonomi, rasanya sudah berakhir bisnis radio Femina di Bandung. 

Entah bagaimana nasib 94.7 FM di Jakarta, frekuensi yang tak pernah sebesar Prambors (102.2) atau yang dipegang raksasa media televisi... Dulu radio ini bukan ditargetkan untuk wanita seperti sekarang, namun format 94.7 UFM (tidak ikut terkena geser-geser frekuensi pada 2004) agak mendekati Global Radio pada saat ini. Namun karena kalah saing dengan Prambors dan radio-radio MRA yang menguasai udara Ibukota saat itu, akhirnya dibeli grup Femina dan menjadi radio wanita.

Radio wanita UFM sempat sukses pada masanya, bersaing dengan Woman Radio 94.3 yang dulu dipegang MNC. Pada masa ini Female Radio belum terlalu kelihatan, (atau malah belum dimiliki Masima?) sehingga dua frekuensi inilah yang bersaing memperebutkan pasar wanita.

___________________________

Blog ini merupakan eks misael(dot)id yang sewanya tidak diperpanjang karena terkendala biaya. Untuk saat ini silakan mengakses radiosael.blogspot.com . Belum ada rencana balik pakai domain seperti dulu karena masih fokus mengembangkan Jalur5 Community (jalur5.com)

Dulu pernah sekali melihat iklan UFM yang memiliki dua frekuensi, entah di mana, yang jelas di sekolah sekitar 2011. Dulu masa jayanya Femin...

0 comments:

Merger Siaran Pagi - Sore Delta, Female, Bahana

2/27/2021 03:56:00 AM Saelz 0 Comments

 Tiga radio punya grup besar di Jakarta, yaitu Delta, Female, Bahana atau dikenal juga dengan JDFI (Jaringan Delta Female Indonesia) menggabungkan siaran pagi dan sore mereka. 

Siaran pagi digawangi Ben, Sissy, dan Nino. Siaran sore dipegang Enno Lerian dan Danar Gumilang. Awalnya memang para penyiar ini sudah memegang posisi di radionya masing-masing.

Awalnya dari melihat profile picture Delta FM, mengapa logonya hilang, tidak menjadi segitiga seperti biasanya. Malah 3 garis beda warna yang ternyata menunjukkan identitas masing-masing radio. Ternyata siaran paginya benar-benar digabung, dan direlay di 3 saluran di Jakarta (97.9, 99.1, 101.8). Model siaran seperti ini (relay sekota) dulu pernah dilakukan RRI Pro 1/3 (91.2, 88.8).

Tidak seperti siaran pagi Mahaka yang digabung keenamnya seminggu sekali (Jumat), penggabungan siaran pagi ini dilakukan setiap hari kerja. Playlist setiap saluran tentu berbeda, namun untuk broadcast ketika dengan bintang tamu, sama semua.

Covid-19 

Pandemi covid-19 memang benar-benar mengganggu dunia radio, apalagi ketika mobilitas orang di jalanan berkurang. Masih beruntung Indonesia tidak seperti Filipina, radio dipaksa bersiaran hanya sampai 00.00 (kalau tidak salah). Karena cashflow yang berantakan dengan adanya Covid19, banyak yang tetap siaran bahkan di bawah jam tayang yang diminta pemerintah setempat.

Pandemi ini memakan 3 radio di Jabodetabek, benar-benar sampai berhenti beroperasi. U FM 94.7, Power FM (KBR) 89.2, Oz Radio 90.8. Sebelum adanya pandemi, radio-radio ini memang sudah megap-megap dalam operasional.

Nah, di grup radio besar ternyata tidak luput dari goncangan. Mahaka yang awalnya mau melakukan branding benar-benar berbeda terhadap 6 radionya, ternyata harus digabungkan untuk talk show dengan bintang tamu (Ini Normal Show). Grup MPG putus kerja sama dengan Virgin dan membuat 99.9 Z FM. Pertama kalinya dalam sejarah, Hard Rock FM potong jam siaran, mereka hanya mengudara hingga 22.00.

Grup Masima kemungkinan sangat besar menggabungkan 3 radio yang pasarnya mirip-mirip ini menjadi satu. Setelah mengecek instagram dan media sosial dari Female dan Bahana, identitas mereka benar-benar tinggal lagunya. 

Apalagi sejak awal memang pasarnya mirip. Bahana FM ex radio keluarga mirip radio-radio daerah, dulunya bukan punya Masima tapi dibeli +- 2011. Female Radio tukar frekuensi dengan RKM (Smooth 99.5 FM), awalnya di Radio Bahana Sanada Dunia (ex RSPD, sejarah sebelum tahun 2000an Female tidak diketahui), namun secara hukum sekarang memegang Radio Kayu Manis.

Saat sebelum penggabungan siaran pagi dan penggabungan identitas, Delta menarget dewasa muda, Bahana menarik penggemar musik Indonesia (namun persentase tidak sebesar I Radio 89.6), Female menarik kaum hawa sesuai namanya.

Setelah Pandemi Berlalu

Kita belum tahu, pada 2022 nanti akan terjadi apa dengan saluran radio ini. Apakah Masima Group akan fokus pada Prambors dan Delta - apalagi setelah tidak lagi fokus ke siaran jaringan di daerah? Namun memang saat ini kondisinya seakan-akan Masima hanya punya 2 radio: Prambors dan Delta (DFB)

Untuk selamat bareng-bareng dan terutama supaya Masima tidak kehilangan salurannya dijual ke orang lain... Apalagi kalau sampai raja televisi seperti Emtek main ke industri radio. Mau tidak mau Masima harus membedakan musik antara ketiga salurannya, seperti dilakukan grup raksasa Mahaka dan MRA.

Jika dilihat dari karakter pendengarnya, Bahana FM mungkin saja benar-benar seperti Iradio jika ingin mereguk kue lebih besar lagi. 100 persen lagu Indonesia non dangdut. Apalagi karakter pendengar kita yang "gak bisa basa enggres". Iradio memang pernah merajai posisi nomor 1 mengalahkan radio-radio dangdut dan Elshinta, kalau tidak salah sekitar 2005-2006. 

Nah, jika Masima benar-benar mau menghilangkan idealisme mereka, Bahana FM bahkan bisa saja memakai format radio-radio daerah (mass radio station), tentunya jadi radio dangdut sekalian. Apalagi Jakarta sendiri kekurangan radio dangdut, saat ini hanya 97.1 RDI, 93.2 Hot, 93.9 Mersi (Tangerang), 100.3 Elgangga (Bekasi), dan 105.4 CBB yang konsisten.

Sementara Delta FM perlu dikembalikan ke format classic hits (50-70s, mentok 80an) seperti dulu. Peminat musik seperti ini banyak, bisa dilihat dari antusiasme masyarakat ke 105.8 Most FM. Di sejumlah negara, masih banyak radio yang mengarah ke classic hits, bahkan memang musik klasik non rock. Dengan berpihaknya Most FM ke rock (apalagi karena ada Rock Weekend ex Kis FM), celah masih terbuka untuk lagu-lagu berbasis piano/gospel untuk dihadirkan Delta FM. Saat ini yang konsisten hanya Brava Radio 103.8, namun pelan-pelan juga tergerus musik zaman sekarang.

Female Radio mungkin bisa dibuat sebagai kompetitornya Kis FM dengan bermain di segmen lagu 90an-2000an. Namun dengan faktor co-own dengan Mahaka Radio Integra (Mahaka memiliki saham +- 20% di Radionet Cipta Karya/Masima), rasanya agak sulit. Radio Mustang 88.0 lebih diarahkan untuk menyaingi Z 99.9 FM dibanding Prambors. Untuk playlist Female saat ini sangat mirip dengan Delta, bedanya Female mulai menarget KPop lebih dari Prambors. Untuk ke depannya radio ini bisa digarap khusus untuk lagu-lagu Korea. Mungkin juga dibuat mengakomodasi lagu-lagu Asia Timur dan Asia Tenggara secara proporsional seperti CPP Radionet (Pas 92.4 FM).

Selama ini, format ketiga radio tersebut sangat bertabrakan dengan Prambors (dan program Prambors Throwback setiap Kamis). Lagu yang diputar 3 radio itu banyak juga yang beredar di Prambors. Kondisi kejenuhan seperti radio-radio Ramako sebelum dibeli Mahaka juga terlihat. Masih untung Masima didukung dengan penyiar pagi dan sore yang punya nama sebelum ada di radio.

Demikian, semoga grup radio tersebut bisa terus bertahan di tengah pandemi....


Sael.

 Tiga radio punya grup besar di Jakarta, yaitu Delta, Female, Bahana atau dikenal juga dengan JDFI (Jaringan Delta Female Indonesia) menggab...

0 comments: