Merger Siaran Pagi - Sore Delta, Female, Bahana

2/27/2021 03:56:00 AM Saelz 0 Comments

 Tiga radio punya grup besar di Jakarta, yaitu Delta, Female, Bahana atau dikenal juga dengan JDFI (Jaringan Delta Female Indonesia) menggabungkan siaran pagi dan sore mereka. 

Siaran pagi digawangi Ben, Sissy, dan Nino. Siaran sore dipegang Enno Lerian dan Danar Gumilang. Awalnya memang para penyiar ini sudah memegang posisi di radionya masing-masing.

Awalnya dari melihat profile picture Delta FM, mengapa logonya hilang, tidak menjadi segitiga seperti biasanya. Malah 3 garis beda warna yang ternyata menunjukkan identitas masing-masing radio. Ternyata siaran paginya benar-benar digabung, dan direlay di 3 saluran di Jakarta (97.9, 99.1, 101.8). Model siaran seperti ini (relay sekota) dulu pernah dilakukan RRI Pro 1/3 (91.2, 88.8).

Tidak seperti siaran pagi Mahaka yang digabung keenamnya seminggu sekali (Jumat), penggabungan siaran pagi ini dilakukan setiap hari kerja. Playlist setiap saluran tentu berbeda, namun untuk broadcast ketika dengan bintang tamu, sama semua.

Covid-19 

Pandemi covid-19 memang benar-benar mengganggu dunia radio, apalagi ketika mobilitas orang di jalanan berkurang. Masih beruntung Indonesia tidak seperti Filipina, radio dipaksa bersiaran hanya sampai 00.00 (kalau tidak salah). Karena cashflow yang berantakan dengan adanya Covid19, banyak yang tetap siaran bahkan di bawah jam tayang yang diminta pemerintah setempat.

Pandemi ini memakan 3 radio di Jabodetabek, benar-benar sampai berhenti beroperasi. U FM 94.7, Power FM (KBR) 89.2, Oz Radio 90.8. Sebelum adanya pandemi, radio-radio ini memang sudah megap-megap dalam operasional.

Nah, di grup radio besar ternyata tidak luput dari goncangan. Mahaka yang awalnya mau melakukan branding benar-benar berbeda terhadap 6 radionya, ternyata harus digabungkan untuk talk show dengan bintang tamu (Ini Normal Show). Grup MPG putus kerja sama dengan Virgin dan membuat 99.9 Z FM. Pertama kalinya dalam sejarah, Hard Rock FM potong jam siaran, mereka hanya mengudara hingga 22.00.

Grup Masima kemungkinan sangat besar menggabungkan 3 radio yang pasarnya mirip-mirip ini menjadi satu. Setelah mengecek instagram dan media sosial dari Female dan Bahana, identitas mereka benar-benar tinggal lagunya. 

Apalagi sejak awal memang pasarnya mirip. Bahana FM ex radio keluarga mirip radio-radio daerah, dulunya bukan punya Masima tapi dibeli +- 2011. Female Radio tukar frekuensi dengan RKM (Smooth 99.5 FM), awalnya di Radio Bahana Sanada Dunia (ex RSPD, sejarah sebelum tahun 2000an Female tidak diketahui), namun secara hukum sekarang memegang Radio Kayu Manis.

Saat sebelum penggabungan siaran pagi dan penggabungan identitas, Delta menarget dewasa muda, Bahana menarik penggemar musik Indonesia (namun persentase tidak sebesar I Radio 89.6), Female menarik kaum hawa sesuai namanya.

Setelah Pandemi Berlalu

Kita belum tahu, pada 2022 nanti akan terjadi apa dengan saluran radio ini. Apakah Masima Group akan fokus pada Prambors dan Delta - apalagi setelah tidak lagi fokus ke siaran jaringan di daerah? Namun memang saat ini kondisinya seakan-akan Masima hanya punya 2 radio: Prambors dan Delta (DFB)

Untuk selamat bareng-bareng dan terutama supaya Masima tidak kehilangan salurannya dijual ke orang lain... Apalagi kalau sampai raja televisi seperti Emtek main ke industri radio. Mau tidak mau Masima harus membedakan musik antara ketiga salurannya, seperti dilakukan grup raksasa Mahaka dan MRA.

Jika dilihat dari karakter pendengarnya, Bahana FM mungkin saja benar-benar seperti Iradio jika ingin mereguk kue lebih besar lagi. 100 persen lagu Indonesia non dangdut. Apalagi karakter pendengar kita yang "gak bisa basa enggres". Iradio memang pernah merajai posisi nomor 1 mengalahkan radio-radio dangdut dan Elshinta, kalau tidak salah sekitar 2005-2006. 

Nah, jika Masima benar-benar mau menghilangkan idealisme mereka, Bahana FM bahkan bisa saja memakai format radio-radio daerah (mass radio station), tentunya jadi radio dangdut sekalian. Apalagi Jakarta sendiri kekurangan radio dangdut, saat ini hanya 97.1 RDI, 93.2 Hot, 93.9 Mersi (Tangerang), 100.3 Elgangga (Bekasi), dan 105.4 CBB yang konsisten.

Sementara Delta FM perlu dikembalikan ke format classic hits (50-70s, mentok 80an) seperti dulu. Peminat musik seperti ini banyak, bisa dilihat dari antusiasme masyarakat ke 105.8 Most FM. Di sejumlah negara, masih banyak radio yang mengarah ke classic hits, bahkan memang musik klasik non rock. Dengan berpihaknya Most FM ke rock (apalagi karena ada Rock Weekend ex Kis FM), celah masih terbuka untuk lagu-lagu berbasis piano/gospel untuk dihadirkan Delta FM. Saat ini yang konsisten hanya Brava Radio 103.8, namun pelan-pelan juga tergerus musik zaman sekarang.

Female Radio mungkin bisa dibuat sebagai kompetitornya Kis FM dengan bermain di segmen lagu 90an-2000an. Namun dengan faktor co-own dengan Mahaka Radio Integra (Mahaka memiliki saham +- 20% di Radionet Cipta Karya/Masima), rasanya agak sulit. Radio Mustang 88.0 lebih diarahkan untuk menyaingi Z 99.9 FM dibanding Prambors. Untuk playlist Female saat ini sangat mirip dengan Delta, bedanya Female mulai menarget KPop lebih dari Prambors. Untuk ke depannya radio ini bisa digarap khusus untuk lagu-lagu Korea. Mungkin juga dibuat mengakomodasi lagu-lagu Asia Timur dan Asia Tenggara secara proporsional seperti CPP Radionet (Pas 92.4 FM).

Selama ini, format ketiga radio tersebut sangat bertabrakan dengan Prambors (dan program Prambors Throwback setiap Kamis). Lagu yang diputar 3 radio itu banyak juga yang beredar di Prambors. Kondisi kejenuhan seperti radio-radio Ramako sebelum dibeli Mahaka juga terlihat. Masih untung Masima didukung dengan penyiar pagi dan sore yang punya nama sebelum ada di radio.

Demikian, semoga grup radio tersebut bisa terus bertahan di tengah pandemi....


Sael.

 Tiga radio punya grup besar di Jakarta, yaitu Delta, Female, Bahana atau dikenal juga dengan JDFI (Jaringan Delta Female Indonesia) menggab...

0 comments: