Karena Blog Politik, Orang Jadi Malas Ngeblog

12/27/2020 08:54:00 AM Saelz 0 Comments

 Setelah +- 2 tahun menghandle Jalur5, dan hasilnya dirasa sudah sangat signifikan selama 1,5 tahun terakhir, saatnya gw sedikit istirahat, dan berbagi pandangan. Wisata ke atapnya Bandung memang membawa inspirasi baru ya, setelah di meja kantor selama 10 bulan.





Tapi ada satu yang gue sadar, masyarakat beralih. Blogging semakin sedikit pemainnya, semakin sepi terdengar kalau dibandingkan medsos akhir-akhir ini. Ditambah insentif operator seluler yang menggratiskan akses medsos tanpa kuota dan banyak yang memberikan kuota harian 2GB, dengan pemakaian rata rata masyarakat 500 MB.

Zaman gw kecil, cita cita jadi blogger itu umum. Sekarang? Jadi Youtuber. Hal ini memang dipengaruhi akses 4G LTE yang sudah sampai ke pelosok, memang percepatan ini yang dikebut Kominfo. Pandemi lebih memaksa kita untuk meningkatkan jaringan internet agar support video sharing. Dulu mimpi di siang bolong, sehingga generasi gw saat SMP/SMA banyak membaca termasuk blogspot dan twitteran, lahwong adanya itu.

Pergeseran di ranah mania transport banyak terjadi sejak 2017. Foto foto bis dan sepur jadi hobi umum, anak SMP bikin cinematic yang dulunya hanya bisa dilakukan railfans karyawan dan anak orang kaya. Orientasinya ke body kendaraan, bukan lagi field report atau nyari momen seperti zaman saya kenal KRL CL dari FB KRLMania dan Semboyan35 forum. Selain sepurnya sudah waras, teknologi makin canggih.

Pergeseran ini harus diakui terkait ketidakpercayaan masyarakat terhadap blogging platform. Sudah jarang yang ngeblog. Blog ini (ex misael dot id, wow nama depan gw yang common jadi nama domain ga pakai embel embel!) ga aktif dari ribut ribut hardrockfm itu.

Penyebabnya, banyak web berita politik menggunakan platform wordpress dan blogspot. Parahnya situs situs beginian provokasi melulu isinya. Kehancuran dimulai ketika domain jadi murah (memang murah .com dari dulu, namun sekarang sebagian besar orang punya kemampuan beli sama server servernya). Situs hoax sulit ditindak karena ada deal deal politik yang gw ga mau bahas. Mending hoax semacam thermogun, lah yang memancing ribut antar umat agama?

Parahnya, tidak ada otoritas yang mengatur hal hal begini. Kominfo sekedar banned, lalu muncul lagi. Website ber domain jadi medan perang politik. Wordpress sendiri tidak mengatur isi konten, agak beda dengan Blogspot yang cukup mudah dilaporkan. Mau melaporkan ke polisi, banyak yang sadar bekingan dari "media alternatif" itu kuat.

Tambah jadi dengan banyaknya blogger yang kesal dengan artikel copas. Ini sebelum adsense blog makin diperketat. Copas di fb, situ bisa diserbu netijen ke akar akarnya. Copas di twitter langsung ditandai, sistem baru twitter mempersulit orang pakai bot. Orang yang dicopas malah bangga, sementara di blog, ranking bisa turun sebelum Google punya AI machine learning.

Ya sudah, angel iki. Masyarakat kabur ke medsos. Twitter, FB tanpa diatur negara juga punya rules yang ketat soal konten, misalnya nggak usah ke Kominfo mereka sudah menyikat banyak konten terkait bunuh diri, self harm. Agak beda zaman gue SMA, di mana foto self harm gara gara idola bebas beredar :( .

Lama-lama pebisnis melihat peluang. Blogger papan atas banyak yang pindah ke medsos dari yang dulunya sekedarnya doang bahkan pakai bot. Ada yang malas sama user interface, banyak yang kesal saingannya di ranah SEO ketat dengan media dan mereka yang jualan hoax. Terlebih medsos menawarkan viral berkali kali lipat dengan modal minim, semua orang bisa bikin post fb. Zaman gw tugas sekolah ya bikin blogspot hahaha.

Operator seluler sejuta umat selama pandemi Covid19 membuat kebijakan yang berpihak pada medsos, dengan gratis akses IG, tapi tidak untuk blogging platform. User interface blog ribet - saat ini memang dipermudah dengan Block Editor wordpress seperti web J5, tapi sudah jadi stigma orang yang terbiasa menulis di note FB. Instagram bisa menawarkan caption yang kira-kira sepanjang orang posting di blogspot zaman dulu. Terlebih FB yang tak dibatasi kalau tidak salah.

Tambah jadilah blog semakin senjakala. Blogger saat ini kebanyakan mereka yang mencicipi masa keemasan kayak Mbak Trinity. Gw juga salah satunya, blog ini meledak pada zaman gw SMA. Generasi di bawah 2000? Hehehehe.

Kalau mau tahu kenapa, salahkan politisi yang menjadikan blog sebagai medan perang. Orang jadi takut klik link. Artikel bagus tercemar dengan berita berita provokasi, agitasi murahan, media tanpa redaksi. Sebelum mengerucut di 2018-19, lebih banyak situs beginian beredar, silakan cek di Berita Politik Kaskus. Ditambah kasus penipuan Blackpanda yang membuat orang pindah transaksi via tokopedia, dan mereka merasa tidak perlu lagi blog/website.

Tapi dengan toksiknya medsos, sepertinya ia akan bangkit lagi di 2021. Baiklah.

Sael, 11 tahun pengalaman blogging, sejak SMP tahun 2009 sudah coba coba.

 Setelah +- 2 tahun menghandle Jalur5, dan hasilnya dirasa sudah sangat signifikan selama 1,5 tahun terakhir, saatnya gw sedikit istirahat, ...

0 comments: